Tai Chi merupakan olahraga yang cukup dikenal di kalangan masyarakat, terutama oleh orang-orang yang sudah memasuki usia lanjut. Gerakannya lembut, ritmenya pelan, dan terlihat aman untuk hampir semua usia. Karena itulah, banyak orang percaya bahwa Tai Chi dapat membantu menjaga keseimbangan, mengurangi rasa takut jatuh, dan bahkan mencegah cedera pada kelompok usia di atas 50 tahun. Namun, apakah anggapan tersebut sudah terbukti secara ilmiah?
Hingga saat ini, para peneliti menyampaikan bahwa bukti yang tersedia masih belum cukup kuat untuk memastikan bahwa Tai Chi benar-benar efektif dalam mengurangi risiko jatuh, meredakan rasa takut jatuh, atau meningkatkan keseimbangan tubuh pada orang berusia lebih dari 50 tahun. Temuan ilmiah yang ada belum mampu memberikan kesimpulan yang meyakinkan.
Hal ini terjadi karena beberapa penelitian memiliki jumlah peserta yang sedikit, durasi latihan yang berbeda-beda, serta metode yang tidak seragam. Akibatnya, hasilnya sulit dibandingkan dan tidak dapat dijadikan patokan untuk seluruh populasi lansia.
Meski begitu, Tai Chi tetap dinilai sebagai aktivitas fisik yang aman dan memiliki manfaat tambahan, seperti meningkatkan fleksibilitas, membantu tubuh menjadi lebih santai, serta memperbaiki kualitas pernapasan. Bagi banyak orang, Tai Chi juga memberikan efek menenangkan yang baik untuk kesehatan mental.
Untuk menjaga tubuh tetap stabil dan mengurangi risiko jatuh, para tenaga kesehatan tetap menyarankan latihan pendukung lain seperti olahraga penguat otot, latihan keseimbangan sederhana, serta aktivitas fisik rutin.
Sebagai tambahan, masyarakat juga bisa memaksimalkan gaya hidup sehat dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia, misalnya layanan Wellness Center RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Di sana terdapat berbagai program pemeliharaan kesehatan, termasuk terapi ozon, yang dapat membantu meningkatkan kebugaran dan kualitas hidup. Dengan menggabungkan olahraga teratur dan layanan kesehatan yang tepat, masyarakat dapat menjaga tubuh tetap bugar dan lebih siap menjalani aktivitas sehari-hari.
Referensi: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK79966/