RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta Gandeng Sanggar ASI Gelar Seminar Nasional: Kupas Tuntas Miskonsepsi MPASI Bersama Dr. Tan Shot Yen
November 10, 2025

RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta Gandeng Sanggar ASI Gelar Seminar Nasional: Kupas Tuntas Miskonsepsi MPASI Bersama Dr. Tan Shot Yen

YOGYAKARTA, RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta dan Sanggar ASI kembali memperkuat kolaborasi edukasi dengan menggelar Seminar Nasional bertema “Stop Salah Kaprah MPASI! Kunci Tepat Kurva Pertumbuhan yang Perlu Orangtua Tahu.” Acara yang berlangsung pada Sabtu, 8 November 2025, ini diselenggarakan secara hybrid di Loman Park Hotel, Yogyakarta, dan juga diikuti secara daring melalui Zoom.

Seminar bergengsi ini menghadirkan Dr. dr Tan Shot Yen, M.Hum, seorang dokter sekaligus ahli gizi masyarakat terkemuka yang aktif mengedukasi kesehatan keluarga di Indonesia.

Kolaborasi ini mencerminkan komitmen bersama kedua institusi. "Kolaborasi dengan RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta bukanlah hal baru. Kami memiliki visi dan misi yang sama: mendukung ibu menyusui dan mendampingi tumbuh kembang anak dengan berpegang teguh pada komitmen terhadap Kode WHO tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI," ungkap Raisika, CEO Sanggar ASI Indonesia.

Ia menambahkan, “Melalui seminar ini, kami ingin mengembalikan pemahaman MPASI ke landasan ilmiah dan kontekstual sebagai momentum anak belajar makan makanan keluarga. Kami berharap setiap orang tua dapat lebih percaya diri dalam memberikan yang terbaik bagi tumbuh kembang anaknya.”

Fokus pada Tiga Pilar PMBA dan Kurva Pertumbuhan

Dalam paparannya, Dr. Tan Shot Yen membahas berbagai miskonsepsi populer seputar MPASI. Ia menekankan bahwa keberhasilan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) berdiri di atas tiga pilar utama:

  1. Orang tua yang tenang dan berpengetahuan.
  2. Anak yang siap secara biologis dan psikologis.
  3. Lingkungan yang mendukung praktik makan responsif.

“Bila tiga hal ini selaras, maka tumbuh kembang anak akan berjalan optimal,” tegas dr. Tan.

Dr. Tan juga sangat menekankan pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak melalui interpretasi grafik di Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Ia menjelaskan bahwa keakuratan data antropometri—seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala—adalah fundamental dan harus diukur dengan benar sebelum diplot. Pembahasan difokuskan pada anak dengan kondisi tumbuh kembang yang relatif sehat, memberikan prinsip-prinsip yang sangat aplikatif bagi orang tua.

Melihat animo peserta yang sangat tinggi pada seminar sebelumnya, RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta dan Sanggar ASI terus berupaya menghadirkan sesi edukasi mendalam, agar semakin banyak keluarga memahami konsep MPASI berbasis ilmu dan praktik nyata di rumah. Acara ini diikuti secara antusias oleh orang tua, tenaga kesehatan, dan pemerhati tumbuh kembang anak, menegaskan peran kedua pihak sebagai garda terdepan dalam edukasi kesehatan anak.

 

Artikel Terkait

Top